Jumat, 06 Maret 2009

Ibunya Cinta, Ayahnya Keikhlasan

Dalam ilmu pengetahuan sudah lama dikenal archaeology of knowledge
yang memberi inspirasi bahwa pengetahuan pun ada silsilahnya.

Dalam karya indah Fritjof Capra berjudul The Tao of Physics bisa
ditemukan tidak saja jejak-jejak pengetahuan Newton, Einstein, dan
Heisenberg, tetapi juga bisa ditemukan sidik-sidik jari Confusius,
Buddha, dan Krishna. Di bagian tertentu temuan Fritjof Capra (doktor
fisika kelahiran Austria) tentang atom dan subatom, bahkan diberi
judul The Dancing of Shiva.

Yang menggembirakan, tidak saja di Barat ada sintesis Barat- Timur
ala Fritjof Capra, di Timur juga ada sintesis serupa, Yongey Mingyur
Rinpoche dalam The Joy of Living, tidak saja fasih berbicara
meditasi, tetapi juga mendalam ketika mengulas fisika, biologi,
sampai psikologi kognitif. Bila ia fasih dengan nama-nama seperti
Dalai Lama, Karmapa, Tilopa, Marpa, dan Milarepa bisa dimaklumi
karena punya darah Tibet.

Namun, lebih dari itu, Mingyur Rinpoche juga fasih dengan karya-
karya Niels Bohr, Albert Einstein, sampai ahli biologi Francisco J
Varela.

Apa yang mau dikemukakan melalui dua contoh ini, di mana- mana telah
terjadi proses interaksi yang saling memengaruhi. Kemudian membentuk
wajah pengetahuan yang plural, toleran, dan bersahabat.

Sufi adalah sebuah tradisi indah di dalam Islam. Ia memberi banyak
inspirasi manusia yang berkarya di Barat. Jalalludin Rumi telah lama
menjadi Albert Einstein-nya dunia Sufi. Paralelisme antara ajaran-
ajaran Buddha dan ajaran-ajaran Yesus dilakukan banyak penulis.

Bali sebagai salah satu koridor global juga membukakan sebuah
kecenderungan. Bom teroris memang menyengsarakan, tetapi ia tidak
cukup kuat untuk menyeret manusia kembali ke sentimen primordial
yang lebih menyengsarakan lagi.

Semua ini, seperti sedang bercerita ke umat manusia, tidak saja
dalam pengetahuan sekat-sekat mulai roboh, dalam spiritualitas pun
tembok-tembok pemisah mulai runtuh. Mahatma Gandhi lahir, bertumbuh,
dan meninggal di keluarga Hindu.

Namun, begitu menyangkut perjuangan tanpa kekerasan, ia menjadi
acuan banyak sekali orang Islam, Kristen, Katolik, dan Buddha.
Gandhi telah menjadi Max Weber-nya gerakan antikekerasan.

Nelson Mandela bertumbuh di keluarga Kristiani, tetapi
keteladanannya dalam hal memaafkan masa lalu menjadi cahaya penerang
banyak sekali manusia.

Hujan, sungai, dan laut

Anak-anak di sekolah dasar hanya sedikit yang bisa bergelar doktor
nantinya. Pejalan kaki ke dalam diri juga sama. Amat sedikit yang
bisa sampai di puncak gunung, seperti Rumi, Mandela, dan Gandhi.

Sebagaimana dicontohkan alam, kebanyakan orang memulai perjalanan
seperti hujan. Jalannya kencang, menghujam setiap hal yang ada di
bumi. Ini yang bisa menjelaskan mengapa sebagian lebih generasi muda
mengisi keseharian (belajar, bekerja) sambil bernyanyi lirik lagu
maju tak gentar, membela yang bayar.

Semangat, keras, dan penuh tenaga, itulah tanda-tanda manusia yang
baru sampai di sini. Sebagian politikus, akademisi, dan pengusaha
yang penuh ambisi ada dalam kelompok ini.

Namun, air hujan mana pun begitu menyatu dengan sungai mulai
kehilangan sebagian sifat-sifat kerasnya. Aliran air sungai
menghadiahkan kelembutan pada air hujan. Kendati di bagian-bagian
tertentu air sungai masih keras dan ganas (seperti air terjun atau
banjir bandang), di kebanyakan waktu dan tempat, air sungai itu
lembut.

Persis seperti pemandangan sungai yang ditandai barang keras seperti
batu serta barang lembut berupa air, demikian juga dengan manusia
yang sudah bertumbuh sampai tahap ini. Ada kalanya ia tegas dan
keras (seperti tentara yang sedang berperang), ada saatnya lembut
bak seorang pelayan. Pemimpin agung umumnya meramu ketegasan dan
kelembutan dalam campuran yang sempurna. Tatkala menghukum, ia
setegas batu. Ketika melayani, ia selembut air.

Hanya persoalan waktu, air sungai akan sampai di laut. Dan di laut
seluruh kekerasan dan kelembutan (baca: dualitas) lebur menjadi
satu. Pencapaian berjumpa laut seperti inilah yang dialami oleh
orang-orang seperti Nelson Mandela, Dalai Lama, Jalalludin Rumi,
hingga Mahatma Gandhi. Tempat lahir, agama, dan negara mereka memang
berbeda, tetapi ada yang sama di antara mereka: melakukan semuanya
dengan cinta, menerima hasilnya dengan keikhlasan.

Orangtua spiritual

Melihat hanya segelintir manusia yang bisa memasuki wilayah laut,
ada kepolosan mau tahu silsilah spiritual manusia- manusia jenis
ini. Ia mengingatkan pada cerita tentang anak kampung yang melihat
tukang balon terbang. Suatu hari anak dengan uang pas-pasan ini
melihat tukang balon terbang berjualan laris sekali. Ketika
pembelinya sudah sepi, tukang balon memompa balon warna lain. Dengan
polos anak kampung bertanya: “Bang memangnya warna hitam bisa
terbang juga?”. Dengan sabar, tukang balon menjawab: “Nak, bukan
warna luar yang membuat balon bisa terbang, tetapi sesuatu yang ada
di dalam”.

Dalam bahasa Vivekananda: when the blossoms vanish, the fruits
appear. Tatkala bunganya layu, buahnya muncul. Bila penampilan luar
(pujian, kekayaan) sudah mulai kehilangan daya tariknya, ada
penampilan dari dalam (rasa syukur, rendah hati) yang muncul sebagai
pengganti.

Itu sebabnya laut merendah, mensyukuri apa saja yang datang.
Hasilnya, laut agung tidak terkira. Ia yang berguru pada laut
sedalam ini sudah menemukan orangtua spiritualnya.

Sebagai Ibu, laut adalah simbolik cinta karena apa saja yang datang
diolah penuh cinta. Sebagai ayah, laut adalah wakil keikhlasan
sempurna karena menerima apa saja tanpa keserakahan memilih.

Inilah silsilah spiritual manusia-manusia agung, Ibunya cinta,
Ayahnya keikhlasan. Dalai Lama pernah berpesan, If you want others
to be happy, practice compassion. If you want to be happy, practice
compassion. Mempraktikkan welas asih, itulah rahasia kebahagiaan.

Dalam bahasa seorang guru Mahamudra, If one can rest the mind
naturally, that’s the supreme meditation. Saat batin bisa
beristirahat secara alami, itulah puncak meditasi. Keikhlasan
berkontribusi besar dalam membuat batin beristirahat dalam
kealamian. Ibarat burung elang yang terbang indah di angkasa,
demikian juga kehidupan yang berjumpa orangtua spiritualnya: ikhlas,
bebas, dan lepas.

Cinta membuat semuanya berguna, bermakna.

Sumber: Ibunya Cinta, Ayahnya Keikhlasan oleh Gede Prama, Bekerja di
Jakarta, Tinggal di Desa Tajun Bali Utara


Kejujuran yang Menyelamatkan Jiwa

Disuatu desa terpencil dipinggiran kota , tinggalah seorang anak
laki-laki bersama 6 saudaranya, kehidupan keluarga ini terlihat
sangatlah sederhana, orang tuanya hanya seorang buruh tani, kakak dan
adiknya semua masih bersekolah sementara ibunya hanya seorang ibu
rumah tangga yang hanya mengurusi keluarga. Untuk membantu keuangan
keluarganya setiap hari selepas pulang sekolah , ia pergi kepasar
untuk berjualan asongan.

Pada suatu hari saat anak ini sedang menjajakan dagangannya, tiba-tiba
ia melihat sebuah bungkusan kertas koran yang cukup besar , terjatuh
dipinggir jalan, lalu diambilnya bungkusan tersebut, kemudian
dibukanya bungkusan itu, namun betapa kaget dan terkejutnya ia,
ternyata isi bungkusan tersebut berisi uang dalam nominal besar.

Tampak diraut wajahnya rasa iba dan bukan kegembiraan, ia tampak
kebinggungan, karena ia yakin uang ini pasti ada yang memilikinya ,
pada saat itu juga anak ini langsung berinisiatif untuk mencari
sipemilik bungkusan tersebut, sambil mencari-cari sipemiliknya,
tiba-tiba seorang ibu dengan ditemani seorang satpam datang dengan
berlinang air mata menghampiri anak kecil itu , lalu ibu ini berkata
“dek, bungkusan itu milik ibu, isi bungkusan itu adalah uang”.

Uang untuk biaya rumah sakit,karena anak ibu baru saja mengalami
kecelakan korban tabrak lari, saat ini anak ibu dalam keadaan kritis
dan harus cepat dioperasi karena terjadi pendarahan otak, kalau tidak
cepat ditangani ibu khawatir jiwa anak ibu tidak akan tertolong.

Pagi ini ibu baru saja menjual semua harta yang ibu miliki untuk biaya
rumah sakit, Ibu sangat membutuhkan uang ini untuk menyelamatkan jiwa
anak ibu.

Lalu anak kecil tersebut berkata,” benar bu, aku sedang mencari
pemilik bungkusan ini, karena aku yakin pemilik bungkusan ini sangat
membutuhkan. “Ini bu !, milik ibu”. setelah itu anak kecil tersebut
langsung berlari pulang , sesampai dirumah ia ceritakan semua kejadian
yang baru saja dialami kepada Ibu nya.

Lalu ibunya berkata , ” Benar anak ku ! “, kamu tidak boleh mengambil
barang milik orang lain, walau pun itu dijalanan , karena barang itu
bukan milik kita. Ibu sangat bangga pada mu nak, walau pun kita miskin
, namun kamu KAYA dengan KEBAIKAN dan KEJUJURAN.

Untuk apa kita memiliki kekayaan yang melimpah, sementara kita harus
mengorbankan nyawa orang lain . “Kamu sungguh anak yang baik nak” ,
ibu sangat bersyukur mempunyai anak seperti mu.

Hari ini ibu percaya, kamu sudah menyelamatkan satu jiwa melalui
kebaikan dan kejujuran mu, kamu harus jaga terus kejujuranmu , karena
kejujuran dapat menyelamatkan banyak orang dan kejujuran adalah mata
uang yang berlaku dimana-mana . “Apa yang bukan milik kita, pantang
untuk kita ambil”.

(”Matamu adalah pelita tubuhmu, Jika matamu baik, teranglah seluruh
tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu
perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi gelap. Jika
seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka
seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau
dengan cahayanya.” )


Nilai seikat kembang

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum. Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata,

“Pak, maukah Anda menemui wanita yang ada di mobil itu? Tolonglah Pak,karena para dokter mengatakan sebentar lagi beliau akan meninggal!”

Penjaga kuburan itu menganggukkan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu. Seorang wanita lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata,

” Saya Ny . Steven. Saya yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat kembang dan menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda. Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolong saya.”

“O, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan kembang, tetapi saya tidak pernah menaruh kembang itu di pusara anak Anda.” jawab pria itu.

“Apa, maaf?” tanya wanita itu dengan gusar.

“Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh kembang itu di sana karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat keindahan seikat kembang. Karena itu setiap kembang yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya jumpai, atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang yang demikian masih hidup, sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman kembang-kembang itu, Nyonya,” jawab pria itu. Wanita itu terdiam, kemudian ia mengisyaratkan agar sopirnya segera pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang wanita cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan.

“Selamat pagi. Apakah Anda masih ingat saya? Saya Ny . Steven. Saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memperhatikan dan membahagiakan mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada meratapi mereka yang sudah meninggal. Ketika saya secara langsung mengantarkan kembang-kembang itu ke rumah sakit atau panti jompo, kembang-kembang itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia. Sampai saat ini para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya!”

Jangan pernah mengasihani diri sendiri, karena mengasihani diri sendiri akan membuat kita terperangkap di kubangan kesedihan. Ada prinsip yang mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu dengan menolong orang lain sesungguhnya kita menolong diri sendiri.

PULAU SUMATRA PUSAT PERADABAN DUNIA

HIPOTESA ETNOLINGUISTIK: PULAU SUMATRA PUSAT PERADABAN DUNIA

Bogor, 24/2 (ANTARA) - Sebuah kajian baru yang didasarkan pada pendekatan etnolinguistik mengungkapkan bahwa Pulau Sumatra menjadi pusat peradaban dunia, dan diduga Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) sebagai sentralnya.

Dr Ir Ricky Avenzora, M.Sc, staf pengajar di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor kepada ANTARA di Bogor, Selasa mengungkapkan bahwa pendekatan etnolinguistik itu menjadi hal baru dalam melihat sejarah.

"Pendekatan etnolinguistik itu dikaji oleh Lucky Hendrawan, Kepala Departemen Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Harapan Bangsa, Bandung. Yang bersangkutan sangat intens dan fokus pada banyak penelitian tentang budaya Nusantara," katanya.

Wacana tersebut, kata dia, juga telah disampaikannya dalam kajian berjudul "Membangun Ekoturisme di Ranah Minang: Mewujudkan Keagungan Di Tanah Leluhur Para Manusia Yang Agung dan Paripurna" bersamaan dengan peluncuran Kereta Api Wisata di Sumbar, akhir pekan lalu.

Ia mengatakan, Prof Dr Arysio Nunes dos Santos dalam buku hasil penelitiannya tentang benua Atlantis yang hilang ("Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato`s Lost Civilization" : 2005), memaparkan bukti tentang lemahnya teori Atlantis oleh Plato.

Arysio Nunes dos Santos adalah pakar Nuklir dan Fisika Bebas kelahiran Brazil serta Profesor Rekayasa Nuklir Escola de Engenharia da Universidade Federal de Sco Paulo (UFMG).

Dengan bukti-bukti yang dimilikinya, Santos yakin bahwa Indonesia adalah pusat dari Benua Atlantis yang hilang tersebut. Banyak bukti geologi yang ia tampilkan dan juga bukti-bukti DNA biologi untuk mendukung teorinya itu.

Yang paling menarik, kata dia, Santos mengatakan bahwa pada masa Atlantis itu, Pulau Sumatra menjadi pusat peradaban dunia dengan Provinsi Sumbar diduga sebagai sentralnya.

Berkaitan dengan wilayah Provinsi Sumbar dengan ibu kota provinsi Padang, katanya, Lucky Hendrawan berhipotesa bahwa kata "Padang" berasal dari kata Pa-Da-Hyang (Pa= Tempat, Da= Wujud, dan Hyang= Agung) yang dapat diartikan sebagai Tempat Terwujudnya Keagungan.

Dikaitkan dengan benang merah asal-usul dan keberadaan suatu bangsa, maka hipotesis yang dikembangkan dengan pendekatan etno-linguistik oleh Lucky Hendrawan (2009) adalah sangat rasional dan perlu didukung untuk ditelusuri bukti empirisnya secara obyektif. Beberapa esensi pemikiran penting dapat dipetik dari hipotesis yang dia kembangkan.

Salah satunya adalah istilah "Sunda" bukanlah merupakan nama suatu suku (etnis) yang hidup di Pulau Jawa bagian Barat, melainkan nama sebuah wilayah besar (Sundaland) yang dibangun melalui suatu ajaran.

Jika ditelusuri dari sudut pandang etno-linguistik, maka banyak bukti empiris etno-linguistik yang menunjukan bahwa Negara Republik Indonesia sesungguhnya telah mengalami beberapa kali pergantian nama, sistem dan konsep kenegaraan serta pemerintahan.

Jika disederhanakan, maka rangkaian perubahan tersebut adalah seperti Dirgantara-Swargant ara-Dwipantara- Nusantara- Indonesia. Kemudian, Sunda Nagara-Taruma Nagara-Banjaran Nagara-Pajajaran Nagara-Republik.

Dalam perkembangan peradaban "Bangsa Sundaland", kata dia, maka Lucky juga menduga bahwa sejalan dengan meletusnya Gunung Batara Guru (sekarang Danau Toba) maka pusat ajaran (Mandala-hyang, diduga sebagai asal usul kata Mandailing) masyarakat Ba-Ta-Ka-Ra (Batak Karo) berpindah ke wilayah Pa-Da-Hyang.

Atas dasar logika hipotesa ini maka dia menduga bahwa wilayah Pa-Da-Hyang adalah Pusat Peradaban Tertua di Dunia yang masih tersisa, dan bahwa kata "Minang" berasal dari kata Mino-Hyang (Mino= Manusia, Hyang= Agung) yang berarti Manusia Yang Agung.

Meskipun hipotesa etno-linguistik yang dikemukakan oleh Lucky sangat mengejutkan dan "menantang" serta sangat jauh dari pola tulisan Kesejarahan Minangkabau yang ada dan tersedia selama ini, menurut Ricky Avenzora, bukan berarti berbagai hipotesa yang ia kemukakan bisa ditolak begitu saja.

Setidaknya, kata dia, hasil ulasan Prof Dr Priyatna Abdurasyid -- Direktur Kehormatan International Institute of Space Law (IISL), Paris-- atas berbagai hasil penelitian Prof Dr Arysio Nunes dos Santos menunjukkan bahwa logika etno-linguistik yang diajukan oleh Lucky Hendrawan mendapatkan jalan empiris dari aspek geologi untuk menuju suatu kebenaran keilmuan yang dapat terus dikembangkan.

Abudrasyid mengungkapkan bahwa setidaknya ada tiga persamaan antara teori Plato --sebagai pencetus pertama teori tentang Benua Atlantis-- dengan hasil penemuan Arysio Santos.

Persamaan teori tersebut pertama, lokasi benua yang tenggelam tersebut adalah Atlantis, dan hal ini dipastikan oleh Santos sebagai Wilayah Republik Indonesia. Kedua, Plato dan Santos sama-sama menggambarkan mata rantai atau panjang dan jumlah gunung berapi di Indonesia.

Ketiga, Plato dan Santos sama-sama menggambarkan adanya kanalisasi lumpur panas di wilayah Indonesia sebagai akibat letusan gunung-gunung berapi yang abu panasnya tercampur air laut menjadi lumpur yang bersifat "impossible barrier of mud" (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui) dan bersifat "in-navigable" (tidak bisa ditembus atau dimasuki).

Hal ketiga ini adalah sangat berkaitan erat dengan semburan lumpur panas Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.

Terlepas dari pro dan kontra yang masih berkembang atas teori yang dikemukakan Santos tentang Benua Atlantis yang hilang, maka hipotesa etno-linguistik yang dicuatkan oleh Lucky Hendrawan sesungguhnya bisa dijadikan pemikiran baru, demikian Ricky Avenzora

Kecanduan membuka email bisa turunkan IQ

Kecanduan memeriksa email, kondisinya tidak jauh berbeda dari kecanduan obat terlarang.

Anda hobi mengecek email hampir setiap saat ketika bekerja di kantor atau di rumah? Hati-hati, kecanduan memeriksa pesan elektronik, kondisinya tidak jauh berbeda dari ketergantungan terhadap obat-obatan.

Menurut John Rateym, psikiater dan profesor dari Harvard, keinginan untuk selalu menjalin kontak dengan dunia maya, mirip dengan efek yang terjadi saat obat-obatan terlarang mempengaruhi otak. "Tak mengherankan, jika seseorang akan merasa endorfin (hormon yang bisa bikin perasaan senang) akan melonjak saat mendapatkan email baru. Tapi, sebaliknya, akan merasa sepi dan putus asa, jika tidak ada pesan eletronik baru," tambah Rateym.

Ternyata, keluhan ini dialami banyak orang. Berdasarkan poling America Online baru-baru ini, terkuak bahwa 41 persen responden langsung mengecek email setelah bangun tidur tanpa menggosok gigi terlebih dulu. Di tambah lagi, 1 dari 4 responden merasa tidak percaya diri jika tidak terkoneksi dengan dunia maya.

Akibatnya, Banyak orang yang memiliki ketergantungan memeriksa email hampir setiap jam. Mereka bahkan rela bangun berkali-kali dalam semalam hanya untuk mengecek e-mail atau pun pesan singkat.

Penelitian yang didanai Hewlett Packard mengingatkan adanya peningkatan jumlah pecandu email dan pesan singkat (SMS). Hasil penelitian menunjukkan, 62 persen pekerja membuka pesan yang berhubungan dengan pekerjaannnya di rumah atau di waktu libur.

Jika dianalisis, teknologi memang dapat meningkatkan produktivitas kerja. Akan tetapi sejak ditemukan efek sampingnya, mulai saat ini pengguna teknologi harus belajar untuk menentukan kapan harus bebas dari telepon dan komputer.

Penelitian yang dilakukan oleh Institute of Psychiatry, menemukan bahwa penggunaan teknologi menurunkan intelegensi pekerja. Tingkat penurunannya mencapai 10 poin atau dua kali lipat lebih besar dari penelitian terhadap pecandu obat-obatan terlarang.

Lebih dari setengah dari total responden yang seluruhnya 1.100 orang mengatakan bahwa mereka selalu menjawab email secepatnya atau sesegera mungkin. Bahkan 21 persen mengatakan kalau perlu di sela-sela rapat atau pertemuan.

Sedangkan David Mayer, Profesor psikologi dari Universitas Michigan, mengatakan jumlah pecandu yang sulit membendung hasrat ini, dapat menurunkan ketajaman mental pekerja secara keseluruhan.

Agar Anda tidak terlalu terobsesi dengan keinginan mengecek email dan tidak mengganggu produktivitas kerja, Mayer memberikan beberapa tips. Antara lain:

1. Matikan 'alarm' yang berbunyi setiap kali Anda mendapat email baru.
2. Hilangkan kebiasaan membuka email setelah bangun pagi atau sebelum Anda tidur.
3. Kendalikan keinginan Anda dengan menjadwalkan membuka email. Beberapa program, seperti Outlook, memperbolehkan Anda untuk mengecek email hanya setiap 15 menit atau setengah jam.